Demam Typhoid

Demam Typhoid

Demam Typhoid

Demam typhoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam ,gangguan pada pencernaan. Tipe demam thypoid akan terjadi demam naik turun. Demam tinggi biasanya terjadi pada sore dan malam hari kemudian turun pada pagi hari.

Orang yang terinfeksi penyakit demam tifoid / tipes dapat menularkan bakteri melalui fases dan urine, makan dan minuman

 

Etiologi Demam Typhoid

Penyebab penyakit ini adalah kuman Salmonella typhi, Salmonella para typhi A, dan Salmonella para typhi B.

 

Transmisi Salmonella typhi kedalam tubuh manusia dapat melalui hal –hal berikut:

1.       Transmisi oral, melalui makanan yang terkontaminasi kuman salmonella typhi.

2.       Transmisi dari tangan ke mulut, di mana tangan yang tidak higenis yang terinfeksi Slmonella typhi langsung bersentuhan dengan makanan yang di makan.  (penyajian makanan oleh orang yang sedang mengalami demam tifoid).

3.       Transmisi kotoran, di mana kotoran individu yang terinfeksi Salmonella typhi kesungai atau sumber air yang digunakan sebagai air minum yang kemudian langsung di minum tanpa di masak

 

Tanda dan Gejala Demam Typhoid

Masa inkubasi 7-14 hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodromal yaitu:

          Perasaan tidak enak badan

          Nyeri kepala

          Pusing

          Anoreksia

          Batuk

          Nyeri otot

Gejala demam pada Typhoid berbeda setiap minggunya:

1.       Minggu pertama: demam ritmen, biasanya menurun pagi hari, dan meningkat pada sore dan malam hari. Pada minggu pertama ini pada anak akan disertai gejala mual, muntah nyeri perut dan nafsu makan menurun. Selain itu lidah tampak kotor (terdapat kotoran warna putih).

2.       Minggu kedua: demam terus menerus

3.       Minggu ketiga: demam mulai turun secara berangsurangsur, gangguan pada saluran pencernaan, lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang disertai tremor, hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan, gangguan pada kesadaran.

 

Pemeriksaan Penunjang Demam Typhoid

1.       Pemeriksaan Darah Tepi

2.       Uji Widal - untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi

3.       Tes Tubex - mendeteksi antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi dengan sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan tes Widal

Penatalaksanaan dan Pencegahan Demam Typhoid

1.       Pemberian antibiotic

2.       Bed rest

3.       Peningkatan hygiene makanan dan minuman

4.       Menjaga kebersihan

Pencegahan Demam Typhoid

Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini adalah

          Mencuci tangan dengan rutin sebelum dan sesudah makan, setelah melakukan kegiatan dan saat melakukan penyajian makanan/memasak.

          Bersihkan tangan dengan sabun dan air mengalir. Dalam keadaan darurat, tangan dapat dibersihkan dengan hand sanitizer yang mengandung setidaknya 70% alkohol.

          Usahakan untuk tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang kotor.

          Pastikan juga untuk mencuci kaki setiap habis keluar rumah.

          Hindari kontak dengan orang sakit

          Hindari kontak terlalu dekat dengan orang yang sedang sakit.

          Berciuman dan menggunakan peralatan makan atau mandi yang sama dengan orang sakit dapat meningkatkan risiko penularan penyakit.

          Vaksin tifoid.

          Mengonsumsi makanan dan minuman yang terjamin kebersihannya

          Tidak menyiapkan/menyajikan makanan ketika masih sakit

 

Kapan harus ke dokter?

Gejala typhoid terkadang mirip dengan kondisi lain. Hal inilah yang membuat sebagian orang lalai dalam penanganan typhoid. Umumnya, tipes diawali dengan demam tinggi, sakit kepala, sakit perut, dan sembelit atau diare.

Jika tidak ditangani dengan baik, demam typhoid biasanya akan memburuk selama beberapa minggu dan berisiko menimbulkan komplikasi. Oleh sebab itu, sebaiknya kunjungi dokter spesialis apabila kamu mengalami demam tinggi hingga mencapai 40C, sakit kepala, nyeri badan, mual dan muntah , sakit perut, diare, dan hilangnya nafsu makan.

 

Referensi:

-        Departemen Kesehatan RI. Sistematika Pedoman Pengendalian Penyakit Demam Tifoid. Jakarta. 2013; Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan.

-        Alba S, Bakker MI, Hatta M, Scheelbeek PFD, Dwiyanti R, Usman R, et al. Risk factors of typhoid infection in the Indonesian Archipelago.PLoS ONE.2016;11(6):1-14.

-        Mogasale V, Desai SN, Mogasale VV, Park JK, Ochiai RL, Wierzba TF. Case fatality rate and length of hospital stay among patients with typhoid intestinal perforation in developing countries: a systematic literature review. PLoS ONE. 2014;9:93784.